PEMILU LEGISLATIF?

April 8, 2009 at 1:41 pm (Tulisan Pemikiran Fikri)

Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka tidur kalo rapat, anggap saja itu dia mewakili rakyat yang suka tidur
Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka mabok, anggap saja itu yang mewakili rakyat yang suka mabok
Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka skandal wanita, anggap saja itu yang mewakili raykat yang suka PSK
Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka berantem, anggap saja itu yang mewakili rakyat yang suka berantem
Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka korupsi, anggap saja dia mewakili rakyat yang suka suap menyuap dengan polantas atau yang suka korupsi waktu, telat masuk kerja/kuliah
Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka gratifikasi, anggap saja dia mewakili rakyat yang suka bikin KTP palsu, atau mahasiswa yang suka nitip absen
Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka ngaji dan bermoral, anggap saja dia yang mewakili raykat yang suka ngaji dan bermoral baik

Jadi, selama masih ada rakyat Indonesia yang suka tidur ketika saatnya bekerja, mabok, maen PSK, korupsi waktu, telatan, malsuin KTP, nitip absen kalo sekolah, bolos sekolah dll, yakinlah, di DPR kita akan masih ada Anggota DPR yang seperti itu
Namanya juga WAKIL RAKYAT…he. ..he….. .
itulah sistem kita Demokrasi… .

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

DPR BIKIN NEGARA MAKMUR? HANYA MIMPI……

April 4, 2009 at 8:57 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

adanya DPR/DPRD adalah bukti bahwa pemimpin tak mampu menjadi aspirator dan tau kondisi rakyatnya. Bukti bahwasanya para pejabat tak mampu menjadi pengayom masyarakat, bukti bahwa pemimpin tak bisa adil… Makanya butuh DPR yang kerjanya cari aaspirasi….

Payah…..

Lalu apa itu DPR?

Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka tidur kalo rapat, anggap saja itu dia mewakili rakyat yang suka tidur Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka mabok, anggap saja itu yang mewakili rakyat yang suka mabok Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka skandal wanita, anggap saja itu yang mewakili raykat yang suka PSK Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka berantem, anggap saja itu yang mewakili rakyat yang suka berantem Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka korupsi, anggap saja dia mewakili rakyat yang suka suap menyuap dengan polantas atau yang suka korupsi waktu, telat masuk kerja/kuliah Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka gratifikasi, anggap saja dia mewakili rakyat yang suka bikin KTP palsu, atau mahasiswa yang suka nitip absen Kalo di DPR/DPRD I/II masih ada yang suka ngaji dan bermoral, anggap saja dia yang mewakili raykat yang suka ngaji dan bermoral baik Jadi, selama masih ada rakyat Indonesia yang suka tidur ketika saatnya bekerja, mabok, maen PSK, korupsi waktu, telatan, malsuin KTP, nitip absen kalo sekolah, bolos sekolah dll, yakinlah, di DPR kita akan masih ada Anggota DPR yang seperti itu Namanya juga WAKIL RAKYAT…he…he…… itulah sistem kita Demokrasi….

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Idul Fitri 1429 H

Oktober 4, 2008 at 10:34 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

Idul Fitri artinya secara harfiah : Kembali Berbuka, bukan kembali fitrah apalagi kembali suci. Yang disunahkan pada saat Idul Fitri adalah : Shalat Id di lapangan, makan/minum setelah sebuh dan sebelum shalat Id pada 1 Syawal (untuk menandai tidak berpuasa), mengumandangkan takbir : Allahuakbar 2x Laa ilahailallahu Allahuakbar, Allahuakbar walillahilham, dan mengucapkan ” Taqoballahu mina wamingkum (semoga Allah menerima amalan aku dan kamu/maksudnya amal selama bulan Ramadhan). Yang diucapkan itu buka Minal Aidin wal faidzin….apalgi mensalah artikan minal aidin wal faidzin menjadi “mohon maaf lahir dan bathin”…itu mah pinter orang Indonesia aja yang suka bikin pantun..he…he….Minta maaf pun tidak harus di Idul Fitri, karena Idul Fitri bukan hari khusus minta maaf, dan jangan harap bahwa dosa setahun lau bisa dihapus lalu kita jadi suci bak kertas putih (bayi kaleeee)….Karena minta maaf tidak harus pas Idul Fitri, tapi setiap hari selama setahun…

Idul Fitri pun bukan hari khusus untuk jiarah..karena jiarah tidak harus pada idul Fitri….

Kita kadang mewajibkan apa yang sebenarnya tidak diwajibkan…bahkan disunahkan pun tidak…terjebak pada ikut2an khalayak ramai tanpa tau arti..

Tapi….tidak juga disalahkan untuk minta maaf di Idul Fitri ini, karena, kapan lagi ya ga kita bisa ketemu keluarga ituh kalo ga pada mudik di Idul Fitri?

Makanya…Fikri Alhaq Fachryana pun mengucapkan permintaan maaf atas Blog ini….isi pemikiran blog ini hanyalah tulisan lepas tak ada kepentingan, apalagi kampanye 2009…ini hanya pencarian kebenaran, bukan pembenaran…

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kejahatan lembaga-Lembaga (Berbicara kemiskinan di hotel)

Juli 25, 2008 at 1:55 pm (Tulisan Pemikiran Fikri)

Sebuah kejahatan besar banyak dilakukan oleh para penyelenggara kegiatan. Kegiatan seminar, dari mulai seminar ilmiah yang memuat jurnal-jurnal ilmiah sampe seminar politik yang pembicaraannya jauh dari ilmiah. Apakah kejahatan itu? ya “Berbicara kemiskinan di Hotel”..Ya…terang saja, sudah terlalu banyak seminar, sudah terlalu banyak lokakarya yang diadakan oleh para tua-tua pensiunan yang punya ego senioritas tinggi tak mau diganti oleh yang muda. dan hasilnya?setelah seminar dan berdebat di lokakarya atas nama kemiskinan dan permasalah negeri ini, lalu makan enak, bergurau dan pulang, kembali dengan beban-beban rumah dari mulai istri, anak dan periharaan…hasilnya? hanya sebuah prossiding yang tak kenal lelah bertengger di perpustakaan-perpustakaan…..Berpakaian mewah dengan melakukan pemborosan dari mulai penyewaan gedung yang mahal, makanan yang mewah, kertas-kertas yang dibuang hanya untuk membuat sebuah seminar kit dan buku catatan yang padahal bisa dibawa sendiri-sendiri…semua itu pemborosan…semua itu adalah kejahatan……Aku rindu pada pergerakan 60-70-an dimana beralaskan lantai dan diruangan lorong-lorong kampus pun tetap terjadi sebuah pergerakan, tetap terjadi sebuah kajian dan seminar yang akhirnya melahirkan sebuah perubahan besar…

1

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Berbisnis Pembenihan Ikat Patin

Juli 20, 2008 at 9:00 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

KIAT MEMBANGUN USAHA IKAN PATIN

Menurut Bapak Irwan Dani, seorang pengusaha ikan patin asal Palembang yang juga mantan alumni Sosek FPIK IPB angkatan 20, menyatakan bahwa Agribisnis merupakan muara dari seluruh jurusan atau program studi yang ada. Oleh karenanya, ketika kita berbicara tentang bisnis maka hal lain yang sangat penting untuk diperhatikan adalah pendidikan. Bisnis dengan disertai pendidikan yang memadai akan menghasilkan percepatan yang meningkat setiap saat. Dengan pendidikan yang memadai, maka seorang pebisnis/seorang wirausahawan akan mudah menerima teknologi dan inovasi baru.

Namun demikian, cara pandang seseorang akan berbeda-beda dalam memandang bisnis itu sendiri. Ada yang menganggap bahwa bisnis itu sangat menakutkan dan ada pula yang menganggap bahwa bisnis itu sangat menggairahkan. Tergantung dari sudut mana kita melihat, tidak ada yang salah dari keduanya. Demikianalah bagaiman seseorang dapat memulai karirnya dalam bisnis. Tidak jarang bagi mereka yang memandang bisnis adalah sesuatu yang menakutkan atau unpredictable maka gengsi atau ego pribadi untuk berkantor dianggap suatu pilihan yang aman dari pada berbisnis. Sehingga ketika kita ingin memulai berbisnis tidak perlu kita memandang apakah harus dimulai dari high risk atau low risk, mulailah berbisnis dari bidang yang mampu kita kuasai dan mampu melihat setiap relung pasar pada bisnis yang akan kita geluti.

Jika melihat kondisi sosial ekonomi Indonesia sekarang, dimana di satu sisi pemerataan pendapatan tidak terjadi, rendahnya pergerakan ekonomi pedesaan, rendahnya penyerapan tenaga kerja, tingginya pergerakan masyarakat ke kota, rendahnya penyediaan pangan dan gizi oleh pemerintah karena terlalu banyak impor, dan sebagainya; dan di sisi yang lain pemenuhan akan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, spiritualitas, rekreasi dan sosial harus dipenuhi, karenanya diharapakan setiap kita mampu menjadi seorang wirausahawan sejati. Artinya, ketika kita mulai tertindas dengan kondisi perekonomian sekarang, maka bagi mereka para wirausahawan akan tetap mampu bertahan hidup bahkan berusaha membangkitkan sekitarnya yang terpuruk. Tentu saja hal ini tidaklah bernilai apa-apa jika pemerintah tetap berlepas tangan dalam hal pengurusan rakyatnya. Perlu adanya dukungan konkreat dan utuh dari pemerintah untuk saling bersinergi dalam mengentaskan seluruh problematika sosial ekonomi Indonesia.

Berangkat dari keterpurukan kondisi sosial ekonomi yang terjadi pada bangsa inilah maka Pak Irwan Dani berupaya untuk tetap bertahan dengan menjadi seorang wirausahawan.

Sejarah kehidupan Pak Irwan Dani berbisnis ikan patin, khususnya dalam hal pembenihan, hingga akhirnya sekarang memiliki omzet penjualan perbulan minimal 3 miliyar tidaklah semudah yang dibayangkan. Bukan berarti tanpa kegagalan dan pengorbanan. Dari kegagalan itulah kemudian beliau dapat belajar dan berupaya semakin tidak menyerah. Beliau harus merelakan pekerjaan tetapnya di kantor. Sabar dalam menghadapi tingkah anaknya yang belum mau mengerti tentang alih profesinya, ikhlas dalam mengorbankan seluruh hartanya, kecuali mobil dan rumah untuk berusaha bangkit dari kegagalan demi kegagalan yang terjadi.

Dengan berbekal tanah 5 x 5 meter disamping rumah untuk tempat pembibitan ikan patin, awal kali return yang bisa beliau peroleh dalam beberapa hari adalah sekitar 5-6 juta rupiah. Hingga akhirnya seperti sekarang, setelah tujuh tahun berkiprah dalam dunia agribisnis perikanan, menjadi seorang pengusaha ikan patin, penghasilan beliau perbulan dapat mencapai minimal 3 miliyar.

Dalam sepekan terakhir, pak Irwan telah berhasil membaca relung pasar dalam usaha penyediaan post larva. Menurut beliau, dari produk ikan patin saja akan dapat menghasilkan lebih kurang 14 peluang bisnis yang dapat dilakukan, diantaranya :

1. Usaha Penyediaan Calon Induk

2. Usaha Pengembangan Induk Jadi

3. Usaha Penyediaan Telur

4. Usaha Penyediaan Larva

5. Usaha Penyediaan Post Larva

6. Usaha Pembenihan I (penghasil benih ¾ s.d 1 inchi)

7. Pengumpul/Agen benih

8. Pembenihan II/Pendederan

9. Pengecer Benih

10. Petani Pembesar

11. Petani Pengumpul/Agen Daging

12. Pedagang Pengecer

13. Restoran/Warung Patin

14. Industri Pangan yang berbahan baku Patin.

Untuk lebih jelas lagi : coba klik di sini

dan klik di sini juga

Permalink & Komentar

Mekanisasi, Pemecahan Masalah Efisiensi Kerja Petani

Juli 16, 2008 at 11:42 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

Mekanisasi, Pemecahan Masalah Efisiensi Kerja Petani

Dewasa ini strategi pembangunan nasional khususnya pemba- ngunan sektor pertanian dipusatkan pada upaya mendorong percepatan perubahan struktural, meliputi proses perubahan dari sistem pertanian tradisional ke sistem pertanian yang maju dan modern, dari sistem pertanian subsistem ke sistem pertanian yang berorientasi pasar dan dari kedudukan ketergantungan kepada kedudukan kemandirian.

Perubahan struktural tersebut merupakan langkah dasar yang meliputi pengalokasian sumber daya (baik alam, manusia maupun mekanik), penguatan kelembagaan dan pemberdayaan manusia. Dalam pelaksanaannya harus meliputi langkah-langkah nyata untuk meningkatkan akses kepada aset produktif berupa teknologi harus dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk tujuan-tujuan yang lebih maju dan lebih bermanfaat termasuk antara lain pengolahan tanah, pemberian air pemilihan bibit unggul, pemupukan, pengendlaian hama dan penyakit, dan pemanenan secara bijaksana.

Pembangunan pertanian harus diarahkan pada terciptanya tenaga petani yang terampil dalam mengelola usaha taninya. Juga terbentuknya masyarakat petani yang maju, bersemangat profesional sehingga mampu menghadapi tantangan dan permasalahan dalam melaksanakan usaha taninya.

Di Indonesia dapat dicatat adanya berbagai tantangan dan permasalahan dalam pengelolaan usaha tani yang masing-masing mempunyai kekhususan yang berbeda-beda seperti kenaikan produksi, peningkatan di bidang pemasaran dan sistem kredit, serta efisiensi. Dari berbagai ragam tantangan dan permasalahan tersebut yang sering kali terlupakan oleh pengamat adalah efisiensi dalam pengelolaan usaha tani terutama yang berhubungan dengan kerja petani.

Perlunya Efisiensi

Menurut Clifford Geertz dalam Involusi Pertanian, pemakaian tenaga kerja di sektor pertanian di Indonesia tergolong sangat besar dibanding negara lain. Di Amerika Serikat kurang lebih 0,002 Kw/ha, Jepang 0,014 Kw/ha, sedang Indonesia 0,127 Kw/ha. Tetapi tenaga kerja manusia di Jepang dan Amerika Serikat lebih intensif dibanding di Indonesia. Terlihat adanya perbedaan nyata antara petani Indonesia dengan petani Jepang.

Langkah yang menyebabkan pertanian di Jepang jauh meninggalkan Indonesia dalam jangka waktu yang sama adalah produktivitas pekerja. Yang utama dalam produktivitas pekerja (petani) Jepang adalah terjadinya perbaikan yang esensial dalam praktik pertanian Jepang sesuai dengan produksi kecil yang efisien. Selain itu di Jepang produktivitas pekerja (petani) bukan hanya diperhitungkan per ha sawah, tetapi penggunaan tenaga kerja dimanfaatkan se efisien mungkin dengan menggunakan perhitungan yang baik.

Di Indonesia, efisiensi yang diartikan sebagai kedayagunaan suatu sumber tenaga dapat menangani suatu bahan, masih belum mendapat perhatian secara serius. Padahal fungsi perbaikan pertanian adalah menaikkan pendapatan, kesejahteraan, taraf hidup dan daya beli petani. Sangat kecilnya efisiensi petani merupakan hambatan bagi faktor-faktor lain yang merupakan penetrasi pembangunan pertanian.

Perbaikan taraf hidup petani memang tidak dilakukan dengan hanya memberi landreform (Redistribusi Tanah Pertanian) atau credit reform (Pemberian Kredit Usaha Tani), tetapi perlu juga diperhatikan situasi kerja petani. Situasi kerja yang monoton dengan hasil yang rendah menyebabkan petani mengalami kejenuhan. Ditilik lebih jauh, perlu diakui bahwa kejenuhan petani ini terus berlangsung. Hal ini disebabkan oleh miskinnya inovasi dan tiadanya gebrakan-gebrakan baru yang menggairahkan petani.

Hambatan pembangunan dalam sektor pertanian di Indonesia adalah lambatnya kemajuan teknologi. Kontras teknologi selalu dipersoalkan. Tingkat teknologi yang rendah menyebabkan petani sulit memperoleh hasil dalam proses produksi yang maksimal. Kehilangan hasil dalam proses produksi sangat besar, sementara biaya yang diperlukan sangat tinggi.

Contoh paling sederhana adalah dalam memanen padi. Untuk 9 kg gabah harus dibayar 1 kg gabah. Jika total hasil panen padi (dalam satu musim tanam) dalam 1 ha adalah 9 ton gabah, maka biaya pemanenan yang dikeluarkan sebesar 1 ton gabah.

Efisiensi teknologi yang memperkecil tingkat kejerihan kerja dengan produktivitas tinggi masih dicemburui. Harapan memperkenalkan teknologi yang efisien selalu dihantui oleh pembengkakan pengangguran terutama di wilayah perdesaan. Akibatnya jumlah tenaga pengangguran semu dalam sektor pertanian di Indonesia sangat besar. Tidak jelas lahirnya tenaga kerja semu ini karena efektivitas kerja rendah yang menyerap banyak tenaga manusia atau memang karena distribusi kerja yang tidak merata.

Tuntutan Inovasi

Dalam arah kebijaksanaan pembangunan nasional, pembangunan sektor pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan kesejahteraan, daya beli, taraf hidup, kapasitas dan kemandirian serta akses masyarakat pertanian dalam proses pembangunan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas produksi serta distribusi dan keanekaragaman hasil pertanian. Pembangunan pertanian diarahkan pada pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan yang berbudaya industri, maju dan efisien ditingkatkan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembangunan pertanian memang sudah saatnya menganut pendekatan industri bukan lagi agraris, artinya menangani pertanian secara industri bukan lagi tergantung sepenuhnya kepada faktor alam. Pengertian industri dalam hal ini bukan semata-mata mendirikan pabrik, tetapi yang lebih mendasar adalah mentransformasikan budaya (pola pikir, sikap mental dan perilaku) masyarakat industri di kalangan para petani.

Kebudayaan industri tersebut antara lain mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, pertama pengetahuan merupakan landasan utama dalam menentukan langkah atau tindakan dalam pengambilan keputusan (bukan berdasarkan kebiasaan semata). Kedua, perekayasan harus menggantikan ketergantungan pada faktor alam. Ketiga, kemajuan teknologi merupakan sarana utama dalam pemanfaatan sumber daya. Keempat, efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumber daya agar penggunaan sumber daya tersebut hemat. Kelima, mekanisme pasar merupakan media utama transaksi barang dan jasa. Keenam, profesionalisme merupakan karakter yang menonjol.

Untuk memenuhi tuntutan di atas, alternatif inovasi yang sampai sekarang tampaknya relevan walaupun tidak terlalu baru adalah penerapan mekanisasi pertanian (penggunaan alat dan mesin pertanian). Sudah saatnya dimulai penerapan mekanisasi pertanian dalam sistem pertanian nasional meskipun tetap dilakukan secara selektif.

Upaya menuju pertanian industri antara lain dapat dikembangkan dengan peningkatan penggunaan alat dan mesin pertanian dalam pengolahan tanah dan penanganan pasca panen. Salah satu keuntungan yang diperoleh adalah terjadinya peningkatan efisiensi dan produktivitas pemanfaatan sumber daya alam.

Mekanisasi Dan Distribusi Kerja

Penggunaan alat dan mesin pertanian saat ini memang sudah merupakan suatu kebutuhan. Efisiensi tinggi saat ini harus mulai diperkenalkan kepada petani. Hal ini tentu beralasan karena tenaga kerja yang digunakan saat ini tidak mempunyai kesinambungan (kontinuitas). Seorang buruh tani hanya akan dibutuhkan pada saat pengolahan tanah dan panen. Pada proses lain mereka kurang dibutuhkan, akhirnya terjadi pengangguran yang tidak kentara (disguised unemployment). Pembuangan waktu yang lama dan sia-sia ini menyebabkan efisiensi menjadi lebih rendah.

Berdasarkan data dalam Involusi Pertanian, pada saat pengolahan tanah, traktorisasi di Indonesia sangat rendah dibanding negara lain. Pada hakikatnya Indonesia masih sangat ketinggalan pada pengembangan traktor. Pemakaian traktor di Indonesia hanya 0,005 Kw/ha. Amerika Serikat 1,7 Kw/ha, Belanda 3,6 Kw/ha dan Jepang 5,6 Kw/ha. Rendahnya pemakaian traktor ini disebabkan oleh rendahnya perkembangan mekanisasi di Indonesia.

Akibatnya, untuk menggarap tanah seluas 1 ha diperlukan waktu berhari-hari dan melibatkan banyak tenaga manusia. Tenaga manusia akhirnya tidak mendapat harga yang layak sehingga produktivitas juga semakin rendah. Tenaga manusia adalah tenaga riskan, hanya digunakan paling cepat 4 bulan sekali menjadi buruh tani.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Had Agricultural technology to increase Indonesia Agriculture?

Juli 15, 2008 at 3:01 pm (Tulisan Pemikiran Fikri)

Had Agricultural technology to increase Indonesia Agriculture?

Had It Make Pollution for Environment?

By Fikri alhaq Fachryana ( F14104069 )

Every day, every month, every year, every century human always changes their culture for better life. Human almost time makes innovation. Human never stop study in formal education or informal education community. The education program is really ideal that it will be implemented successfully. We may hope then that our future generation will have better life.

The education program launches many people who have competent ion in technology. Many height technologies had been made by them. Technology had been made for easy life. In the world has some technology, such as: information technology, astronomy, etc. but, the most important for Indonesia is agricultural technology. Because Indonesia is agricultural country.

Agricultural technology almost time relate with agricultural engineering or agricultural machinery. ‘Agricultural machinery”’ is one of the most revolutionary and impact applications of modern technology. Given the truly elemental human need for food, agriculture has been an essential human activity almost from the beginning, and it has often driven the development of technology and machines. Over the last 100 years, advances in farm equipment have dramatically changed the way people are employed and produce their food worldwide.

Doubtless, the first man to turn from the hunting and gathering lifestyle to farming did so by using his bare hands, and perhaps some sticks or stones. Tools such as knives, scythes, and wooden plows were eventually developed, and dominated agriculture for thousands of years.

During this time, almost everyone worked in agriculture, because each family could barely raise enough food for themselves with the limited technology of the day. With the coming of the Industrial Revolution and the development of more complicated machines, farming methods took a great leap forward. Instead of harvesting grain by hand with a sharp blade, wheeled machines cut a continuous swath. Instead of threshing the grain by beating it with sticks, threshing machines separated the seeds from the heads and stalks.

These machines required a lot of power, which was originally supplied by horses or other domesticated animals. With the invention of steam power came the steam-powered tractor, a multipurpose, mobile energy source that was the ground-crawling cousin to the steam locomotive. Agricultural steam engines took over the heavy pulling work of horses, and were also equipped with a pulley that could power stationary machines via the use of a long belt. The steam-powered behemoths could provide a tremendous amount of power, both because of their size and their low gear ratios. Their slow speed led farmers to comment that tractors had two speeds: “slow, and damn slow.” Gasoline and later diesel engines became the main source of power for the next generation of tractors. These engines also contributed to the development of the self-propelled, combined harvester and thresher, or combine for short. Instead of cutting the grain stalks and transporting them to a stationary threshing machine, these combines cut, threshed etc.

Agricultural in general definition (agronomy, forestry, fishing, animal poultry) have some division. Divisions are agricultural engineering, agro industry technology, and food technology. Has forestry technology make better forestry in Indonesia? No, it has not. It is the answer for the question. Because many people who have competent ion in agricultural technology had not use technology for increase agricultural, but for individual purpose.

They logs forest by their technology. Technology can make pollution for environment too. It was mentioned earlier that with the increase in our population, clean water has become a problem. Our river has been polluted by all sorts of waste. There is rubbish from dangerous pesticides of our farm, and deadly chemicals from pesticides too.

In the days when the fishing technology had increase, many fish have been killed by chemicals that are used for chats fish in the sea. That all make the water pollution. There are many kinds of pollution. They can be grouped into several major classifications, of which we mention here; water pollution, air pollution, land pollution, noise pollution, and radiation pollution.

Air pollution is caused by agricultural engines and some pesticides that is used for farm, land pollution can be caused by waste or rubbish such as agricultural products, food products. Because of our carelessness and laziness, our surroundings are very dirty. They are filled with household waste as well as factory waste. Some waste can be broken down by natural organisms such as bacteria. Rubbish like this called organic waste. On the other hand, rubbish which cannot be broken down by natural organisms is called inorganic waste. This is more difficult to dispose of and it makes the surroundings very unpleasant to look at.

Noise pollution can be caused by several thinks of agricultural technology. Agricultural machines that is used in the farm had make noise. Agro industries that used machines had make noise for environment in mass community. Loud noise is annoying and is dangerous to our ears. Loud noise may cause the deafness. It can affect the hearth and cause nervous strain.

Radiation pollution can kill many people in one moment. It is caused by uranium and other radioactive material that is used in agricultural. The testing of atomic weapons is feared by people in general because atomic weapons are radioactive. These are a few examples of the different kinds of pollution in our life which is caused by machines and agricultural technology.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

INTELEKTUALITAS MAHASISWA, PUDAR….MANA TARINGNYA?

Juli 12, 2008 at 7:32 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

PUDARNYA TARING INTELEKTUALITAS DALAM AKSI/DEMONSTRASI MAHASISWA

Ketika kekuatan adalah massa bukan argumen

Oleh : Fikri Alhaq Fachryana *

Setelah mahasiswa dan masyarakat intelektual dikejutkan dengan pernyataan kepala Badan Intelegen Negara (BIN) yang berkali-kali dengan tumbennya memberikan statemen tentang didomplenginya pergerakan mahasiswa, kini saatnya mahasiswa berevaluasi atas gerakannya. Tentunya tidak semua mahasiswa dalam setiap garakannya atau tidak semua mahasiswa didomplengi, karena mungkin hanya beberapa mahasiswa/oknum mahasiswa saja yang melakukan apa yang dikatakan kepala BIN tadi.

Tetapi saat ini ada hal yang menjadi evaluasi dalam setiap gerakan mahasiswa yang mungkin ini lebih banyak dilakukan mahasiswa. Kesalahan terbesar itu adalah : elegansi dan intelektualitas mahasiswa dalam aksi-aksinya pudar. Kita dengar dalam setiap kali aksi dimana ketika itu aksi gagal ” Awas, kami akan kembali dengan jumlah massa kami yang lebih banyak, ribuan massa dari kami akan datang lagi untuk mendatangi gedung ini !!!!…sungguh ironi, karena saat ini statmen yang diungkapkan mahasiswa adalah itu, bukan lagi : Awas !! kami akan datang dengan data dan fakta yang lebih banyak hinggatuntutan kami dikabulkan!!!”

Nah…inilah kondisinya saat ini. Ketika mahasiswa tak ada bedanya dengan buruh ketika beraksi dan tak ada bedanya dengan sekedar buruh-buruh demonstrasi..

Kita tidak tau mengapa statmen itu setiap kali keluar. Mungkin karena kurangnya kajian-kajian berbasis ilmu yang diadakan sebelum aksi, atau mungkin massa aksi pun kerap kali datang aksi hanya untuk ikut-ikutan tanpa tau esensi dan isi dari tuntutan…

Ini adalah bahan evaluasi kita bersama wahai mahasiswa , wahai demonstran….

Ingat, saat ini tidak banyak media yang meliput ketika aksi, atau jarangnya pejabat yang kita tuntut menghadiri aksi kita lalu berbicara di mobil sound kita, bahkan keluarlah statemen rakyat di jalan ”Aksi mahasiswa hanya bikin jalan macet saja !!”…

Semua kondisi dan statemen itu hendaknya menjadi evaluasi bagi kita…Jangan malah menjadi marah atau kebakaran jenggot….

* Ketua Lembaga Swadaya Mahasiswa Komite Bangkit Mahasiswa (KOBAMA), sebuah lembaga swadaya mahasiswa yang bergerak dalam mencerdaskan intelektualitas pergerakan mahasiswa di kampus dan memperjuangnkan hak asasi mahasiswa di kampus.

Diskusi di 085691927676, emai : kmb@yahoo.com

Permalink & Komentar

ERGONOMIKA PERTANIAN, BELUM DIPERHATIKAN

Juli 12, 2008 at 7:31 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

ERGONOMIKA DI BIDANG PERTANIAN/KESEHATAN KESELAMATAN KERJA

MASIH TIDAK DIPEDULIKAN

Oleh : Fikri Alhaq Fachryana *

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan.
K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.


Bagaimana K3 dalam perspektif hukum?
Ada tiga aspek utama hukum K3 yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata. Norma keselamatan kerja merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif.


Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja.
Konsep ini juga mencegah pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.


Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya. K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja, misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet, kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain.


Norma kerja berkaitan dengan manajemen perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja, shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain. Hal-hal tersebut mempunyai korelasi yang erat terhadap peristiwa kecelakaan kerja.

Namun kita harus bertanya, apakah di bidang pertanian kesehatan dan keselamatan kerja atau yang kita lebih kenal dengan aspek ergonomika pertanian telah terwujud? Sistem kebijakan kita belum memperhatikan ke arah sana.

Jelas ini adalah sebuah pelangaran HAM (Hak Asasi Manusia) setiap tenaga kerja diberikan asuransi dan jaminan keselamatan kerja, tapi apakah pekerja pertanian/buruh tani diberikan hak yang sama?

Padahal, kita lihat dari mulai pembukaan lahan hingga panen dalam suatu budidaya pertanian banyak hal tentang keselamatan dan kesehatan kerja buruh tani yang terabaikan dan tak ada peduli dari pemerintah. Saat buruh tani membajak tak ada satu pun alat pengaman yang dikenakan, dan pemerintah pun melalui programnya tak pernah memfasilitasi, padahal bahaya kecelakaan kerja sangat memungkinkan dari mulai kaki terkena bajak hingga traktor tangan yang terbalik dll. Pada saat pemupukan dan penyemprotan obat contohnya, bahaya keracunan dari obat terhadap buruh tani sangat mungkin, tetapi kita lihat jarang petani kita yang mengenakan walau sekedar masker untuk melindungi dirinya. Masih banyak kondisi dimana kesehatan dan keselamatan kerja tidak dihiraukan di bidang pertanian, hingga panen, teriknya matahari yang menyengat sehingga secara langsung dapat menurunkan produktivitas petani ketia menanam, memanen, merontokan hasil dsb.

Wahai mahasiswa teknik pertanian, sekali lagi ini adalah bidang kita, menjamin kesehatan dan keselamatan kerja bagi petani, buruh tani…Kesehatan dan keselamatan kerja dan aspek ergonomika dalam bidang pertanian sangat penting, selain untuk menjamin keselamatan kerja juga dapat mencegah penurunan produktivitas kerja…

* Mahasiswa Teknik Pertanian, Sistem Manajemen Mekanisasi Pertanian IPB, Ketua Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian Indonesia

Permalink & Komentar

PETANI TAK PENTINGKAN HARGANYA, TAPI AKSESIBILITASNYA

Juli 12, 2008 at 7:30 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

MEKANISASI PERTANIAN TERANCAM HANCUR LAGI…….

Oleh : Fikri Alhaq Fachryana

Rekan-rekan tau PP No 09 Thn 2006 yang baru dikeluarkan pemerintah tahun sejak 25 April 2008 di saat saat isu kenaikan BBM? Salah satunya mengatur bagaimana BBM tidak dapat dibeli dengan drigen atau lainnya selain kendaraan bermotor. PP ini memang tujuannya untuk mengamankan BBM dari penimbunan mafia menjelang kenaikan BBM sebelum 24 Mei 2008 kemarin. Tetapi sayangnya pemerintah kita telah memandang sebelah mata petani, pemerintah tidak ingat jika petani pun menggunakan BBM untuk mengoperasikan alat mesin pertaniannya (traktor tangan, mesin perontok padi, pengering padi, sampai penggilingan padi / RMU serta mesin-mesin lainnya seperti penggiling tepung, kelapa dll). Akhirnya petani dengan alat mesinnya yang nota bene bukan kendaraan bermotor tidak dapat membeli BBM tersebut.

Kajian telah dilakukan IMATETANI bersama 4 nara sumber petani di Kecamatan Cibungbulang (Pak Sentot/Ketua Advokasi petani HKTI Kab Bogor, Pak Trisno/ Ketua Unit Pelayanan Jasa Alsintan UPJA 3 kecamatan Cbungbulang, Pamijahan dan Ciampea dan Wakil Ketua KTNA Cibungbulang, Pak Adung/Ketua Kelompok Tani Situ Ilir dan Pak Uha/Ketu Kelompok Tani Girimulya) dimana mereka adalah pemilik lahan.

Pak Adung menuturkan bahwa dari 2 traktor tangan yang dimiliki kelompok tani sudah beberapa hari tidak operasi karena sulitnya mendapatkan bensin. Penggilingan padinya pun kesulitan mendapatkan solar sehingga harus tertatih untuk beroperasi. Pak Adung harus membeli bensin dengan menitipkan dengan mobil tetangga ke POM bensin, begitupun juga dengan solar. Bensin dan solar dari mobil disedot kembali dan dialirkan ke traktor dan penggilingan di lahan. Bayangkan betapa susahnya….. menurut pak Adung, UPTD Pertanian Cibungbulang pernah menyarankan untuk petani membuat surat izin dari kepolisian untuk membeli BBM dengan wadah, tetapi Polisi kita pun tidak mau bertanggungjawab untuk membuat itu karena takut akan PP Pemerintah itu. Kalupun polisi mau, maka akan banyak pencaloan terjadi oleh polisi (dasyat….).

Sejalan dengan Pak Trisno menerangkan bahwa ada dampak dari PP No 09 itu adalah : 1). Sebanyak 35 Traktor tangan di UPJA tidak dapat beroperasi dan akhirnya pola tanam padi kacau, 2). Petani Pamijahan yang letaknya di bukit-bukit selam ini membeli BBM di tempat eceran terdekat, tapidengan PP no 09 tidak ada lagi penjual eceran, dan kalaupun ada harganya sudah mencapai Rp. 9000 (ini sebelum kenaikan lho). Akhirnya petani di sana enggan mengoperasikan traktor dan 8 buah traktor di sana akhirnya harus menganggur.

Pak Sentot sebagai ketua bagian Advokasi HKTI Kab. Bogor pernah melayangkan surat pengaduan ke PERTAMINA, tetapi balasannya adalah sangat menyakitkan, PERTAMINA tetap memegang aturan PP no 09 itu.

Pak Uha yang sudah 4 hari terhitung 26 Mei 2008 traktor tangan di kelompok taninya tidak beroperasi karena bosan untuk membeli BBM dengan nitip ke mobil tetangga (karena harus membayar uang rokok ke tetangga) menuturkan ancamannya untuk memboikot hasil pertanian/padi untuk tidak dijual ke Jakarta jika peraturan BBM ini terus ada.

Itulah segelintir keluhan dari petani langsung.Bagaimana nasibnya petani lain? Di Pulau-pulau kecil? Di desa-desa terpencil? Wah…..tak terbayangkan…I(ni baru dampak dari PP No 09 sebelum kenaikan BBM per 24 mei 2008 yang menimbulkan multi efek. Setelah traktor tidak dapat mengolah tanah, maka lahan dibiarkan atau beralih menggunakan cangkul dan kerbau dengan efisiensi rendah sehingga waktu tanam terlambat, pola tanam padi kacau, setelah itu mesin perontok tidak dapat beroperasi, masukan beras di industri terlambat, bahkan penggilingan padinya pun tersendat. Ini baru efek pada proses produksi padi, belum efek-lain pada sektor lainnya…..

Mekanisasi pertanian yang telah berpuluh – puluh tahun dibangun akhirnya bisa hancur karena ini dan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali mekanisasi pertanian…

Bagaimana kalo BBM setelah itu naik? Yang pasti kesulitan ini akan bertambah lebih besar lagi….

Baik, tak ada solusi lain kecuali kita sebagai mahasiswa, dosen bergerak, apalagi mahasiswa Teknik Pertanian atau mahasiswa Pertanian sekalipun. Mari kita bersama petani/bukan hanya atas nama petani untuk meminta pemerintah memberikan sistem perlindungan bagi petani, bagi alat mesin pertanian……

Permalink & Komentar

Next page »