INTELEKTUALITAS MAHASISWA, PUDAR….MANA TARINGNYA?

Juli 12, 2008 at 7:32 am (Tulisan Pemikiran Fikri)

PUDARNYA TARING INTELEKTUALITAS DALAM AKSI/DEMONSTRASI MAHASISWA

Ketika kekuatan adalah massa bukan argumen

Oleh : Fikri Alhaq Fachryana *

Setelah mahasiswa dan masyarakat intelektual dikejutkan dengan pernyataan kepala Badan Intelegen Negara (BIN) yang berkali-kali dengan tumbennya memberikan statemen tentang didomplenginya pergerakan mahasiswa, kini saatnya mahasiswa berevaluasi atas gerakannya. Tentunya tidak semua mahasiswa dalam setiap garakannya atau tidak semua mahasiswa didomplengi, karena mungkin hanya beberapa mahasiswa/oknum mahasiswa saja yang melakukan apa yang dikatakan kepala BIN tadi.

Tetapi saat ini ada hal yang menjadi evaluasi dalam setiap gerakan mahasiswa yang mungkin ini lebih banyak dilakukan mahasiswa. Kesalahan terbesar itu adalah : elegansi dan intelektualitas mahasiswa dalam aksi-aksinya pudar. Kita dengar dalam setiap kali aksi dimana ketika itu aksi gagal ” Awas, kami akan kembali dengan jumlah massa kami yang lebih banyak, ribuan massa dari kami akan datang lagi untuk mendatangi gedung ini !!!!…sungguh ironi, karena saat ini statmen yang diungkapkan mahasiswa adalah itu, bukan lagi : Awas !! kami akan datang dengan data dan fakta yang lebih banyak hinggatuntutan kami dikabulkan!!!”

Nah…inilah kondisinya saat ini. Ketika mahasiswa tak ada bedanya dengan buruh ketika beraksi dan tak ada bedanya dengan sekedar buruh-buruh demonstrasi..

Kita tidak tau mengapa statmen itu setiap kali keluar. Mungkin karena kurangnya kajian-kajian berbasis ilmu yang diadakan sebelum aksi, atau mungkin massa aksi pun kerap kali datang aksi hanya untuk ikut-ikutan tanpa tau esensi dan isi dari tuntutan…

Ini adalah bahan evaluasi kita bersama wahai mahasiswa , wahai demonstran….

Ingat, saat ini tidak banyak media yang meliput ketika aksi, atau jarangnya pejabat yang kita tuntut menghadiri aksi kita lalu berbicara di mobil sound kita, bahkan keluarlah statemen rakyat di jalan ”Aksi mahasiswa hanya bikin jalan macet saja !!”…

Semua kondisi dan statemen itu hendaknya menjadi evaluasi bagi kita…Jangan malah menjadi marah atau kebakaran jenggot….

* Ketua Lembaga Swadaya Mahasiswa Komite Bangkit Mahasiswa (KOBAMA), sebuah lembaga swadaya mahasiswa yang bergerak dalam mencerdaskan intelektualitas pergerakan mahasiswa di kampus dan memperjuangnkan hak asasi mahasiswa di kampus.

Diskusi di 085691927676, emai : kmb@yahoo.com

& Komentar

  1. maul berkata,

    kang fikri, naon kabarna?
    eleh-eleh semangat pisan tulisana….
    bole nanya?
    sama teu antara demo, pergerakan, n menasehati?
    bole jawab?tolong dikoreksi!
    demo adalah salah satu pergerakan untuk menasehati pemerintah….betul?
    nah menasehati dengan cara apa?dengan cara membawa orang banyak, dengan cara mengorek-ngorek kesalahan pemerintah yang menurut mahasiswa memang itu salah.dengan cara menasehati di depan orang banyak.
    betul?
    kenapa orang banyak?karena wartawan, pers pasti ngeliput n disiarin dah di TV.
    betul?

    Nah, satu pertanyaan lagi?
    gimana kalo saya sangkut pautkan dengan hukum islam tentang menasehati seseorang, khususnya pemempin?
    boleh?

    to be continue…

    hehehehe….tar kite lanjutin lagi dah…udah mo ashar neh…

    kpn seminar?lulus bareng ya?oktober…
    bye…

  2. NoeRdy berkata,

    yups…
    demo cuma buat suara serak, badan lelah, pikiran kusut… buat apa ikut2 aksi yang kita gak juga belum tentu mengerti tuntutannya apa, kenapa kita harus menuntut hal itu… apakah benar kita mewakilkan masyarakat (atas nama seluruh rakyat Indonesia) secara utuh dan menyeluruh atau jangan2 cuma membawakan tuntutan segelintir orang yang mencari2 kesalahan orang tanpa fakta dan demi mencapai tujuannya..ironis.
    Memang benar kita membutuhkan suatu wadah untuk mengkaji ke-valid-an isu yang akan dibawa. Saya setuju kalo setiap aksi kita memboyong barang seorang pejabat barang kali yang juga mendukung aksi ini sebagai simbol dari ke-valid-an data yang kita kaji dalam aksi tersebut.
    Bahkan kini dengan adanya konsolidasi layaknya BEM seluruh Indonesia saya harap ini menjadi sebuah corong dalam mengusung peranan pemuda sebagai generasi penerus dan control politik… Hidup Mahasiswa…
    Pemuda generasi penerus mestinya tanggap dan mau menanggapi kasus2 yang berkembang.. Jangan hanya diam dan menonton, itu mah samaaja gak peduli dengan nasib bangsa sendiri.. alih2 dibegoin ma pemerintah aja gak tau!!!

Tulis sebuah Komentar