Seorang merah yang tak pernah henti bergerak mengejar banyak tujuan hidup yang tak

Sang Revisioner
satu manusia pun tau kecuali orang-orang yang bisa membuatnya menjadi percaya. Dilahirkan di sebuah desa tertinggal di kabupaten Cirebon, Jawa barat 9 April 21 tahun yang silam sekolah TK ketika umur 3,5 tahun selama 2 tahun dan masuk SD ketika berumur 4 tahun hingga lulus di SD Cilengkrang Girang Kab. Cirebon setelah berpindah-pindah dari 3 SD sebelumnya, SD Pasaleman II dan SD Jatiseeng Kidul. Dilanjutkan sekolah di SMS Negri I Ciledug Cirebon dan SMU 3 Cirebon. Pada saat SD sorenya dibarengi dengan sekolah di TPA Almuhajirin hingga umur 10 tahun. ketika SMP dia aktif di organisasi Pramuka dan mengikuti jejak ayahnya di keorganisasian pesantren Almuhajirin Cirebon dan persatuan Islam (PERSIS) Cirebon. Saat SMP mulai mengenal musik dan dengan group bandnya telah melahirkan 2 ablum pertamanya hingga exist di musik hingga SMA kelas 2 dan berakhir ketika masuk perguruan tinggi setelah kesibukan berganti. Saat SMU kembali aktif kembali di Pramuka hingga kelas 2. Sejak saat itu mulai aktif dengan club sepedanya dengan kawan2 SMA hingga lulus. Saat SMA mulai bergerak di karir politik dengan partai pertamanya hingga berganti 3 kali partai. Tetapi saat masuk perguruan tinggi politik praktis di partai ditinggalkan karena menganggap bahwa partai menjadikan dirinya tidak dapat memberikan sesuatu untuk masyarakat. Fikri keluar dari politik praktis, karena memang awalnya masuk partai bukan untuk mengejar kekuasaan politik, tetapi karena ingin mengabdi pada masyarakat, tetapi malah dengan partai menjadi penghalang dengan masyarakat. Akhirnya fikri memilih aktif lagi di organisasi remaja masjid persatuan Islam Cirebon (PERSIS) hingga masuk perguruan tinggi. Fikri SMA juga sangat hobi pencinta alaman, hingga membawa dirinya membentuk sebuah gang yang hobinya naik gunung, tracking dll saat SMA. Hobi ini terus terbawa hingga sekarang, walaupun tidak lagi aktif di organisasi pencinta alam, tetapi sering melakukan aktifitas itu. Sejak masuk Institut Pertanian Bogor lewat jalur PMDK, fikri memilih aktif di organisasi kampus dengan landasan nasionalisme. Fikri aktif pertama kali di Dewan perwakilan mahasiswa Tingkat TPB dan merintis pembangunan di jurusannya dengan menjadi komandan tingkat di jurusan. Fikri aktif juga di koran kampus saat itu walu hanya beberapa bulan. Tingkat ke dua di kampus fikri aktif kembali setelah pencalonan menjadi angota Dewan perwakilan mahasiswa tingkat pusat. Saat tingkat 2 juga fikri aktif di himpunan profesinya di jurusan sebagai badan pengawas HIMATETA IPB. Di sanalah mulai karirnya di keprofesian. Sejak tahun itu fikri punn mulai aktif di daerah Cirebon dengan mengembangkan pusat pelatihan Komputer, Bisnis dan Advokasi Masyarakat di tempat kelahirannya. sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam pendidikan keterampilan masyarakat d bidang komputer, kepemimpinan, bisnis dan kemampuan organisasi advokasi.

Adik Kandung satu-satunya (Ghina Auliya Luthfiyanti)
Tahun ke 3 fikri kembali mencalonkan menjadi anggota Dewan perwakilan Mahasiswa tingkat pusat dan terpilih kembali untuk ke 2 kalinya. Fikri pun saat tahun ke 3 menjadi sekretaris Eksekutif Himpunan mahasiswa teknik pertanian. dan saat itu juga terpilih dalam kongres nasional fikri terpilih menjadi ketua umum IMATETANI setelah 1 tahun sebelumnya fikri telah merintis karirnya di IMATETANI sebagai ketua departemen advokasi pertanian. Hingga tahun ke 4 di kampus fikri kembali mencalonkan diri menjadi anggota Dewan perwakilan Mahasiswa tingkat pusat dan terpilih kembali. Tingkat 4 pun fikri kembali menjadi badan pengawas HIMATETA dan tetap aktif di himpunan memegang amanh menjadi bagian pengabdian masyarakat. Akhirnya saat ini fikri tengah mengemban amanah menjadi ketua Umum IMATETANI, Badan pengawas HIMATETA, ketua komisi kesejahteraan mahasiswa Dewan perwakilan Mahasiswa pusat, Sekretaris umum Ikatan Masyarakat Pasaleman Cirebon, aktif juga di orgnisasi mahasiswa daerah Cirebon IKC untuk mengembangkan pertanian di Cirebon dan terakhir diminta oleh Badan Eksekutif Mahasiswa fakultas FATETA IPB untuk menjadi staf ahli bidang advokasi.

Foto Ibu Kandung (Eti Susilo Budiarti)
karirnya di profesional dimulai sejak kuliah tingkat 3 dengan menjadi asisten dosen mata kuliah mekanika Fluida, lalu menjadi asisten dosen gambar teknik dan asisten dosen mekanika terpadu bahan teknik. Di tahun ke 4 fikri kembali menjadi asisten dosen mata kuliah meklanika fluida, gambar teknik dan menjadi asisten tetap mekanika fluida dan bahan teknik. Jadi sudah 6 kali mata kuliah yang sudah dihandle olehnya. Di tahun ke 4 juga dipercaya menjadi asisten tetap dosen dan banyak mengerjakan proyek-proyek bersama dosen. tahun ke 4 adalah tahun terakhir di kampus dengan harapan segala aktifitas organisasi, profesi dan akademiknya (tak lupa juga melakukan penelitian tentang aspek mekanisasi di Kabupaten Bogor) dapat berjalan bersamaan hingga saat lulus semuanya sudah diselesaikan dengan baik dan seorang fikri muda sudah dapat terjun ke dunia pasca kampus ataupun jika diberikan kesempatan bisa melanjutkan kembali menjadi mahasiswa S2, S3 dan tetap aktif di kampus dengan landasan intelektualitas dan tri dharma……..(oto biografi fikri alhaq fachryana)
Permalink
6 Tanggapan
Pertama, mohon maaf kepada yang mendukung PILKADA Langsung. Karena penulis pun bukan penolak PILKADA langsung (UU No.32 Tahun 2004). Tulisan ini hanya sebuah stimulan untuk mencoba pemikiran baru. PILKADA langsung rencananya menghabiskan dana 22 triliun untuk PILKADA 2009. Dana itulah yang diajukan KPU kepada Pemerintah, namun sampai hari ini dana yang disetujui hanya sampai 20 triliun oleh Mentri Keuangan RI. Dana sebesar itu, apakah akan menghasilkan efisiensi yang tinggi.
Efisiensi adalah sebagaimana dijelaskan dalam rumus :
Output
——- x 100 %
Input
Input dari PILKADA langsung adalah :
-
Dana sebesar 20 triliun Rupiah
-
Partisipasi aktif masyarakat yang sudah memenuhi syarat memilih dan dipilih
Outputnya ???
Apa benar PILKADA langsung membuat sebuah tatanan demokrasi yang lebih demokratis? Ya benar jika masyarakat kita sudah dewasa berpolitik, tetapi jika akhirnya lebih menambah yang namanya kolusi dan politik uang, apakah itu yang namanya memperbaiki sistem demokrasi?
Jika malah menambah masalah sosial dari mulai keributan antar masyarakat? apakah itu yang namanya demokrasi? tentunya hanya akan menurunkan stabilitas sosial masyarakat yang selama ini dibangun, dan akhirnya stabilitas ekonomipun turut berpengaruh.
Memang…dengan PILKADA langsung rakyat bisa menggunakan kedaulatanya untuk menentukan pemimpin dan katanya akan menimbulkan rasa tanggung jawab yang tinggi seorang pemimpin yang telah dipilih langsung. Sistem demokrasi langsung melalui Pilkada Langsung akan membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi warga dalam proses demokrasi dan menentukkan kepemimpinan politik di tingkat lokal dibandingkan sistem demokrasi perwakilan- yang lebih banyak meletakkan kuasa untuk menentukan rekruimen politik di tangan segelitir orang di DPRD (Oligarkis). Selain itu dari sisi kompetisi politik, Pilkada Langsung memungkinkan munculnya secara lebih lebar preferensi kandidat-kandidat yang bersaing serta memungkinkan masing-masing kandidat berkompetisi dalam ruang yang lebih terbuka dibandingkan ketertutupan yang sering terjadi dalam demokrasi perwakilan
tetapi….coba dilihat lagi kesiapan masyarakat kita..
Jika hanya ingin mendapatkan rasa tanggung jawab seorang pemimpin, tentunya tidak harus ada pemilihan langsung, yang terpenting adalah kontrol sosial oleh orang-orang independen (termasuk rakyat, mahasiswa, dan segala unsur elemen) terhadap seorang pemimpin tersebut) itu sudah cukup mengkontrol dan menimbulkan tanggung jawab dan pengawasan terhadap pemerintah.
Jangan sampai terjadi pengorbanan materi (dana) dan moral hanya untuk 5 tahun (itu pun mungkin hanya 3tahun efektif, karena 2 tahun terakhir digunakan untuk persiapan PILKADA berikutnya, apalagi untuk pemimpin yang ingin mencalonkan lagi), dampak sosial dan stabilitas ekonomi. Sedangkan 5 tahun itu belum tentu menghasilkan. Apalagi jika terjadi pengalihan konsentrasi dari politikus kita yang tak lagi memikirkan pembangunan tetapi memikirkan rencana peraduannya di kancah Pilkada langsung.
Jadi, siapa yang tau besarnya efisiensi (%) atas sistem ini? buktikan saja nanti..
Tulisan ini hanyalah sebuah pendapat, tak ada sebuah motivasi politik apalagi politik praktis…Perbedaan pandangan adalah sesuatu hal yang wajar dalam sebuah demokrasi, tinggal bagaimana menyikapinya.
Diskusi : Fikri Alhaq Fachryana, 085691927676
Permalink
Tinggalkan sebuah Komentar